Selasa, 26 Oktober 2010

kerajaan airlangga

Kisah bermula pada saat Pangeran Airlangga muda, putra sulung Ramanda Raja Dharma Udhayana Warmadewa beserta Permaisuri Mahendradatta meninggalkan Pulau Bali menuju tanah Jawa. Perjalanan tersebut dilakukan atas permintaan sang uwak Prabu Teguh Darmawangsa di Kahuripan yang ingin menjodohkan sang pengeran dengan putrinya yang bernama Dewi Galuh. Ratu Mahendradatta sebenarnya adalah putri Sang Prabu mPu Sindok dan merupakan adik kandung Prabu Tguh Dharmawangsa. Dengan demikian Pangeran Airlangga akan dinikahkan dengan saudara sepupunya sendiri, dan kelak di kemudian hari diharapkan sebagai pewaris tahta Kahuripan penerus dinasti Isyana.

Singkat cerita tibalah hari perkawinan agung. Segala persiapan pesta telah dilakukan secara besar-besaran. Tidak tanggung segala rakyat datang dari pelosok negeri berbondong-bondong, laki-perempuan, tua-muda, kaya-miskin, tanpa kecuali mendatangai kotaraja. Mereka ingin turut memberikan doa restu kepada mempelai berdua, dan memang kebijakan sang prabu menitahkan bahwa seluruh rakyat Kahuripan diundang ke istananya tanpa kecuali.

Namun tanpa diduga sama sekali, negeri Wurawari yang mempunyai dendam kepada Kahuripan memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan untuk menyerang dan menghancurkan Kahuripan. Dan karena kelengahan pertahanan Kahuripan akibat terhanyut oleh suasana pesta, maka dengan mudah pasukan Wurawari memporak-porandakan istana, bahkan Prabu Dharmawangsa gugur dalam pertempuran, dan sang permaisuripun turut bela pati.

Karena kecakapan pengawal pribadi Airlangga yang bernama Narottama, maka sang pengeran dan istri yang baru dinikahinya dengan beberapa kerabat berhasil meloloskan diri. Rombongan pelarian ini kemudian mengungsi ke daerah Ampel. Di sana kemudian Airlangga menitipkan istrinya kepada Ki Buyut Ampel. Pangeran Airlangga kemudian melanjutkan perjalanan untuk mencari pendeta guna belajar sutra sebagai bekal hidup di kelak kemudian hari. Atas petunjuk mPu Bharada, sampailah sang pangeran menenui sang bhiksu Budha di lereng gunung Penanggungan.

Alkisah suatu hari sang Airlangga diminta oleh gurunya untuk membeli beras sebagai persediaan bahan makanan perguruan kepada Ki Buyut Niti di dusun Cane. Pada kesempatan perjamuan, putri Ki Buyut menghidangkan suguhan. Dan betapa terpesona sang pengeran melihat kecantikan sang dewi. Dan seketika dia berniat mempersunting putri Ki Buyut tersebut. Dan atas restu dari bhiksu Budha gurunya, dipinanglah sang dewi dengan mas kawin yang dihutang. Karena mas kawin dihutang oleh sang pangeran, maka sesuai dengan adat di masa itu, sang pangeran harus tinggal menetap di rumah mertuanya. Dari pernikahan dengan Mahadewi ini, Pangeran Airlangga dianugerahi seorang putra yang diberi nama Mapanji Garasakan.

Sang bhiksu Budha yang telah uzur usia, pada suatu hari sakit keras. Di tengah sakitnya sang bhiksu kemudian mengundang seluruh cantriknya dan juga Ki Buyut Cane. Dalam suasana haru diwasiatkannyalah bahwasanya salah seorang cantriknya seseungguhnya adalah Pangeran Airlangga, penerus wangsa Isyana yang paling berhak atas tahta Kahuripan. Sebagai bukti kebenaran ucapannya dikeluarkanlah cincin berukir garudha mukha, simbol kebesaran raja Kahuripan. Dan dipesankanlah kepada seluruh rakyat Kahuripan untuk bersatu menegakkan Kahuripan dengan menobatkan Airlangga sebagai raja yang baru.

Maka dari dusun Cane itulah disusun kembali kekuatan kerajaan. Ki Buyut Niti diangkat sebagai penasehat politik raja, sedangkan sang Narottama diangkat sebagai perdana menteri, sementara sang istri diberi gelar Mahadewi diangkat sebagai permaisuri kedua. Hal pertama yang dilakukan sang prabu tentunya menjemput Permaisuri Dewi Galuh di Ampel. Setelah seluruh kerabat telah berkumpul kembali, maka mulailah ditata kembali kerajaan Kahuripan.

Kekuatan pertahanan kerajaan dibangun kembali dengan mengumpulkan pemuda-pemuda pilihan dari segenap pelosok negeri. Setelah pasukan dirasa kuat, sang prabu mulai melebarkan kekuasaan dengan menyerang musuh-musuh Kahuripan. Dan tak begitu lama kemudian kerajaan Wurawari sebagai musuh bebuyutan kerajaan berhasil ditakhlukan.

Setelah melebarkan sayap kekuasaan, sang prabu kemudian berniat membangun kutaraja. Maka dicarilah daerah keramat di lereng Gunung Penanggungan yang kemudian diberinya nama Wwatan Mas. Kemudian untuk meningkatkan hasil pertanian, dibangunlah Saptawringin dengan membendung sungai Brantas. Dan memang tanpa terlalu lama kesejahteraan rakyat meningkat, dan negeri Kahuripan menjadi negri yang gemah ripah loh jinawi, makmur sejahtera, tercukupi segala kebutuhan sandang pangannya.

Bukanlah kehidupan duniawi apabila tiada hambatan atau cobaan hidup. Dan dalam sejarah Kahuripan terceritalah seorang janda dari Waru Doyong yang bernama Nyi Calon Arang. Diakarenakan profesinya sebagai dukun santet maka jarang orang yang berani berurusan dengannya. Hal tersebut mengakibatkan anak gadisnya menjadi perawan tua, karena tidak ada pemuda yang berani meminangnya. Kenyataan ini menjadikan Nyi Calon Arang dendam kepada semua orang, sehingga dengan ilmu teluhnya, sang dukun menebarkan malapetaka berupa wabah penyakit aneh ke seluruh pelosok Kahuripan. Akhirnya baginda raja mengutus Mpu Baradha untuk mengatasi hal tersebut. Dengan mengumpankan cantrik kinasihnya, dilamarlah putri Calon Arang. Melalui anaknya inilah kemudian bisa diketahui rahasia ilmu hitam sang dukun santet. Dan akhirnya malapetaka santet dan teluh yang disebarkan Calon Arang berhasil diberantas.

Al kisah, dari permaisuri pertama Dewi Galuh, Prabu Airlangga dikaruniai dua orang anak, yang pertama seorang putri bernama Sanggramawijaya dan adiknya laki-laki bernama Pangeran Samarawijaya. Sang putri semenjak remaja telah gemar membaca sutra Budha, dan memang di kemudian hari sang putri lebih memilih menjadi seorang pertapa dengan gelar Kilisuci.

Pada suatu hari di kala mandi di patirtan kaputren, sang permaisuri Dewi Galuh terpeleset hingga terjatuh dan menemui ajalnya. Sepeninggal permaisuri menjadi gundah gulana dan gelisah hati sri baginda. Setelah merenung panjang diputuskanyalah bahwa sang prabu berkeinginan untuk lengser keprabon dan lebih memilih menjadi pertapa untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widi Wasa. Dengan demikian maka tahta kerajaan akan segera diserahkannya kepada putranya.

Namun kebimbangan melanda pikiran baginda, karena memiliki dua permaisuri dan keduanya mempunyai dua orang putra yang sama-sama mempunyai hak atas tahta Kahuripan. Akhirnya teringatlah baginda akan haknya atas tahta kerajaan Bali. Maka beliau kemudian mengutus Mpu Baradha untuk menanyakan haknya atas tahta Bali. Kerajaan Bali saat itu telah diperintah oleh Prabu Anak Wungsu, adik kandung Prabu Airlangga. Dan kenyataannya upaya meminta hak atas tahta Bali tidak berhasil.

Kemudian sebagai jalan tengah, atas usulan Mpu Baradha, maka dipecahlah kerajaan Kahuripan menjadi dua kerajaan. Kerajaan lama kemudian berganti nama menjadi Jenggala dan Mapanji Garasakan sebagai raja, wilayahnya meliputi Kahuripan sebelah utara sungai Brantas. Sedangkan palihan negara yang lain diserahkan kepada Pangeran Samarawijaya yang bertahta di Daha dengan wilayah kekuasaan di selatan sungai Brantas.

Demikianlah sejarah perpecahan kerajaan berawal. Dan kelak juga berlanjut kepada kerajaan Mataran Islam pada saat terjadinya perjanjian Giyanti yang memecah Mataram menjadi Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Belum cukup sampai di situ, Kasunanan pecah lagi dengan lahirnya Mangkunegaran, sedangkan Kasultanan pecah dengan adanya Pakualaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar